Budidaya Ikan Sistem Bioflok

0
266

Bioflok berasal dari dua kata yaitu Bio “kehidupan” dan Floc “gumpalan”. Sehingga dapat diartikan sebagai bahan organik hidup yang menyatu menjadi gumpalan-gumpalan. Gumpalan tersebut terdiri dari berbagai mikroorganisme air termasuk bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus.  Teknologi bioflok juga merupakan salah satu alternatif baru dalam mengalasi masalah kualitas air (Avnimelech, 2006; deSchryver et al., 2008). Prinsip utama yang diterapkan dalam teknologi ini adalah manajemen kualitas air yang didasarkan pada kemampuan bakteri heterotrof untuk memanfaatkan N organik dan anorganik yang terdapat di dalam air. Pada kondisi C dan N yang seimbang dalam air, bakteri heterotrof akan memanfaatkan N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik, yang terdapat dalam air untuk pembentukan biomasa sehingga konsentrasi N dalam air menjadi berkurang (de Schryver et al., 2008). Secara teoritis, pemanfaatan N oleh bakteri heterotrof dalam sistem akuakultur disajikan dalam reaksi kimia berikut (Ebeling et al., 2006)

NH4+ + 1.18C6H12O6 + HC03- +

2.06O2 ” C5H7O2N + 6.06H2O + 3.07CO2

Teknologi bioflok atau teknik suspensi aktif (activated suspension technique, AST), menggunakan aerasi konstan untuk memungkinkan terjadinya proses dekomposisi secara aerobik dan menjaga flok bakteri berada dalam suspensi (Azim et al., 2007).

Gambar 1. Sistem Aerasi

Dalam sistem ini, bakteri heterotrof yang tumbuh dengan kepadatan yang tinggi berfungsi sebagai bioreaktor yang mengontrol kualitas air terutama konsentrasi N serta sebagai sumber protein bagi organisme yang dipelihara. Pembentukan bioflok oleh bakteri terutama bakteri heterotrof secara umum bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan nutrien (Bossier & Verstraete, 1996; de Schryver et al., 2008).

Gambar 2. Gumpalan Flok

Flok bakteri tersusun atas campuran berbagai jenis mikro-organisme (bakteri pembentuk flok, bakteri filamen, fungi), partikel-partikel tersuspensi, berbagai koloid dan polimer organik, berbagai kation dan sel-sel mati (Jorand et al., 1995, Verstraete, et al., 2007; de Schryver et al., 2008) dengan ukuran bervariasi dengan kisaran 100 – 1000 μm (Azim et al., 2007; deSchryver et al., 2008). Selain flok bakteri, berbagai jenis organisme lain juga ditemukan dalam bioflok scperti protozoa, rotifer dan oligochaeta (Azim et al., 2007; Ekasari, 2008). Komposisi organisme dalam flok akan mempengaruhi struktur bioflok dan kandungan nutrisi bioflok (Izquierdo, et al., 2006; Ju et al., 2008). Ju et al. (2008) melaporkan bahwa bioflok yang didominasi oleh bakteri dan mikroalga hijau mengandung protein yang lebih tinggi (38 dan 42% protein) daripada bioflok yang didominasi oleh diatom (26%).

Kondisi lingkungan abiotik juga berpengaruh terhadap pembentukan bioflok seperti rasio C/N, pH, temperatur dan kecepatan pcngadukan (de Scryver et al., 2008; Van Wyk & Avnimeleeh, 2007). Sementara menurut de Schryver et al. (2008), mekanisme pembentukan flok oleh komunitas bakteri merupakan proses yang kompleks yang merupakan kombinasi berbagai fenomena fisika, kimia dan biologis seperti interaksi permukaan bakteri secara fisik dan kimiawi, dan quorum sensing sebagai kontrol biologis

Hingga saat ini teknologi bioflok telah diaplikasikan pada budidaya ikan dan udang seperti budidaya ikan lele yang di lakukan di Demplot Dinas Kelautan dan Perikanan Kalteng. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi bioflok berperan dalam perbaikan kualitas air, peningkatan biosekuriti, peningkatan produktivitas. peningkatan efisiensi pakan serta penurunan biaya produksi melalui penurunan biaya pakan (Avnimelech, 2007; Crab et al., 2008, 2009; Ekasari, 2008; Hari et al., 2006, ).

Hingga saat ini teknologi bioflok telah diaplikasikan pada budidaya ikan dan udang seperti budidaya ikan lele yang di lakukan di Demplot Dinas Kelautan dan Perikanan Kalteng. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi bioflok berperan dalam perbaikan kualitas air, peningkatan biosekuriti, peningkatan produktivitas. peningkatan efisiensi pakan serta penurunan biaya produksi melalui penurunan biaya pakan (Avnimelech, 2007; Crab et al., 2008, 2009; Ekasari, 2008; Hari et al., 2006, ).

Dengan berbagai kelebihan yang telah dijelaskan di atas maka jelaslah bahwa teknologi bioflok (BFT) merupakan salah satu alternatif teknologi masa depan untuk kegiatan akuakultur yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Namun demikian perlu adanya aspek kajian  lebih lanjut seperti kebutuhan energi untuk aerasi dan pengadukan, kestabilan sistem, kandungan nutrisi bioflok serta pengaruh bioflok terhadap transmisi dan infeksi penyakit.

Referensi :

Avnimelech, Y., 1999. Carbon/nitrogen ratio as a kontrol element in aquaculture sistems. Aquaculture 176,227-235.

Azim, M.E., Little, D.C. 2008. The biofloc technology (BFT) in indoor tanks: Water quality, biofloc composition, and growth and welfare of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture 283,29-35.

Bossier, P., Verstraete, W., 1996. Triggers for microbial aggregation in activated sludge? Appl Microbiol Biotechnol 45, 1-6.

Crab, R., Kochva, M., Verstraete, W., Avnimelech, Y. 2008. Bio-flocs technology application in over-wintering of tilapia. Aquaculture Engineering 40, 105-112.

de Schryver, P. and Verstraete, W. 2009. Nitrogen removal from aquaculture pond water by heterotrophic nitrogen assimilation in lab-scale sequencing batch reaktors. Bioresource Technology 100, 1162-1167.

Ebeling, J.M., Timmons, M,B,, Bisogni, J.J., 2006. Engineering analysis of the stoichiometry of photoautotrophic, autotrophic and heterotrophic removal of ammonia-nitrogen in aquaculture sistems. Aquaculture 257, 346—358.

Ekasari, J. 2008. Bioflocs technology: the effect of different carbon source, salinity and the addition of probiotics on the primary nutritional value of the bioflocs. Thesis. Faculty of Bioscience Engineering. Ghent University. Belgium.

Hari, B., Kurup, B.M.,Varghese, J.T., Schrama, J.W., Verdegem,M.C.J., 2006. The effect of carbohydrate addition on water quality and the nitrogen budget in extensive shrimp culture sistems. Aquaculture 252, 248-263.

Izquierdo, M., Forster, L, Divakaran, S., Conquest, L., Decamp, O., Tacon, A., 2006. Effect of green and clear water and lipid source on survival, growth and biochemical composition of Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei. Aquaculture Nutrition 12,192 – 202.

Ju, Z.Y., Forster, 1., Conquest, L., Dominy, W., Kuo, W.C., Horgen, F.D., 2008. Determination of microbial community structures of shrimp floe cultures by biomarkers and analysis of floe amino acid profiles. Aquaculture Research 39, 118-133.

Van Wyk, P. and Avnimelech, Y. 2007. Management of nitrogen cycling and microbial populations in biofloc-based aquaculture sistems. Presented in World Aquaculture Society Meeting, San Antonio, Texas, USA. February 26 to March 2,2007.

Verstraete, W., De Schryver, P., Deroirdt, T., Crab, R. 2007. Added value of microbial life in flocs. Presented in World Aquaculture Society Meeting, San Antonio, Texas, USA. February 26 to March 2. 2007

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here